Kamis, 10 April 2014

SI MUNGIL TOMCAT

SI MUNGIL TOMCAT



“Tomcat” sebenarnya adalah Kumbang Rove Beetle dari genus Paederus. Lengkapnya Paederus sp. (species).
Serangga Tomcat disebut juga dengan Kumbang Rove atau lebih dikenal juga dengan nama daerah Semut Semai, Semut Kayap atau Charlie, dll
Paederus ini tercatat ada banyak ragam jenis, tergantung di negara mana dia berasal.
Misalnya :
- Paederus melampus : India
- Paederus brasilensis : Brazil
- Paederus colombius : Kolombia
- Paederus fusipes : Taiwan
- Paederus peregrines dan Riparius : Indonesia & Malaysia
Tomcat mempunyai ukuran kurang daripada 1 cm panjang. Secara kasat mata mirip Semut, hanya saja memiliki “ekor” berbentuk sengat. Badannya berwarna kuning gelap di bagian atas, bawah abdomen dan kepala berwarna gelap. Bagian tengah abdomen yang berwarna hijau tua mempunyai sepasang sayap keras. Biasanya, Tomcat ini kelihatan merangkak di kawasan sekeliling dengan menyembunyikan sayapnya dan dalam sekali pandang ia lebih menyerupai semut. Apabila diganggu, Tomcat akan menaikkan bagian abdomen supaya kelihatan seperti kala jengking untuk menakutkan musuh.
Tomcat terdapat di seluruh dunia, terutama wilayah Tropis. Sehingga serangga ini bukan jenis baru atau hasil mutasi. Tetapi memang sudah ada sejak lama, kira-kira seumuran dengan evolusi Semut.
Bagi yang tinggal di wilayah Pedesaan atau dekat dengan hutan, tentu sudah tidak asing lagi dengan si Tomcat ini.Karena si Merah Hitam ini sebenarnya Musuh Alami dari hama Wereng Sawah, dan sangat membantu Petani mengatasi Hama wereng yang menyerang Padi. Sehingga pada musim panen jumlah hewan ini sangat banyak didaerah pedesaan.
Tomcat banyak keluar pada malam hari, yang sangat gemar mendekati Sumber Cahaya. Lampu, misalnya. Jadi salah satu cara untuk mendeteksi kehadirannya :perhatikan Lampu setiap masuk ruangan. Jika ada serangga mirip semut yang keluyuran dekat bola Lampu, mungkin itu si Tomcat.
Dia  tidak mengigit ataupun menyengat. Tomcat akan mengeluarkan cairan otomatis bila bersentuhan atau berbenturan dengan kulit manusia. Gawatnya, Tomcat juga akan mengeluarkan cairan racunnya ini pada benda-benda seperti baju, handuk, atau benda-benda lainnya. Dalam tubuh Tomcat, terdapat cairan yang diduga 12 kali lebih mematikan dari bisa ular kobra. Cairan hemolimfe atau toksin ini disebut sebagai paederin.
Kumbang Paederus sp., seperti umumnya Serangga, memiliki Butiran Darah yang berfungsi ganda. Yaitu Haemolymph. Selain mengangkut Oksigen & Zat Makanan (Haemocyanin), juga berfungsi sebagai Pertahanan Tubuh/Imunitas (Lymph). (Berbeda dengan manusia, yang komponen Darahnya masing-masing hanya memilik 1 fungsi. Haemoglobin hanya mengurus Oksigen & Zat Makanan, sementara Imunitas diurus oleh Leukosit & Limfe.)
Dalam Haemolymph ini terkandung senyawa Amida yang dikenal dengan namaPaederin. Susunan Rantai Kimianya : (C 25 H 45 O 9 N), dengan jumlah molekul H yang dominan, menjadikan senyawa ini bersifat sangat Asam. Mirip seperti Semut atau Lebah, namun lebih Asam.
Seperti yang kita pelajari di Sekolah, Zat hiper-Asam bersifat Korosif dan mampu mengiritasi/mengikis permukaan Kulit. Begitu pula dengan Paederin ini. Jika kontak dengan kulit, maka akan menimbulkan gejala Iritasi yang agak hebat.
Kadar Paederin dalam 1ml cairan memang jumlahnya mencapai 12 kali lebih pekatdaripada racun Ular Kobra. Namun bukan berarti lalu Paederin sangat beracun, melebihi racun Kobra. Sebaliknya, justru racun Kobra yang berupa Neurotoxin (racun yang menyerang jaringan saraf) jauh lebih mematikan daripada Paederin. Hanya dibutuhkan 1 tetes / 1 ml racun Kobra untuk membunuh manusia. Sedangkan Paederin ? Terkena hingga 5ml pun tetap tidak akan mampu menimbulkan kematian bagi manusia.
Paederin memapar mengenai Kulit bukan melalui gigitan atau sengatan, tapi karena tubuh Paederus hancur diatas kulit kita. Mungkin karena refleks menepuk ketika dia hinggap, juga mungkin karena tidak sengaja “kedudukan” atau “tergencet” tubuh kita. Dengan pecahnya Exoskeleton atau Kulit Paederus, maka cairan Paederin pun keluar dan membasahi kulit kita. Itu sebabnya jika melihat ada Paederus sedang berjalan di kulit, jangan ditepuk, dipencet, atau ditekan. Cukup ditiup atau disingkirkan perlahan dengan kertas atau benda apapun yg bisa digunakan untuk menyingkirkan Paederus tanpa menghancurkan tubuhnya.
Kalaupun tubuh Paederus terlanjur hancur karena  ditepuk atau dipencet, baik sengaja maupun tidak, Segera cuci tangan dan bagian yang terkena cairan Paederin dengan Air mengalir dan Sabun. Sabun bersifat Basa, tentunya akan menggumpalkan Paederin yang bersifat Asam. Sehingga mengurangi kadar Iritatifnya. Diamkan Sabun selama beberapa menit sebelum membilasnya, supaya lebih banyak Paederin yang terikat oleh Sabun. Air yang mengalir tentunya membuang sisa-sisa Paederin, baik yang telah terikat dengan Sabun maupun yang belum.
Hindari mencuci di Air yang tergenang, dalam Baskom atau Gayung misalnya. Karena Paederin tidak kemana-mana, melainkan justru akan menyebar ke seluruh tangan dalam kondisi sangat darurat, tidak ada Air atau Sabun. Bisa menggunakan Air Ludah sebagai Pencegahan Pertama. Ludah kita bersifat Basa Lemah. Meski tidak sekuat Sabun, paling tidak bisa mengurangi efek Paederin. Tetap dibasahi dengan Ludah sampai kita menemukan Air Mengalir & Sabun. Jangan menggosok atau mengusap bekas Paederin. Jangan dipegang-pegang, karena akan menempel dan menyebar ke area kulit yang lain.
Jika Tomcat Diketok/Dipencet dengan menggunakan benda keras Misalnya dipencet dengan Buku, ketika Paederus berada di lantai.Segera bersihkan Cairan Paederin yg terdapat di lantai dengan Air Sabun. Jangan dibiarkan. Karena Paederin sangat kental dan lambat menguap, jika terinjak akan mengiritasi Telapak Kaki. Sedangkan kulit Bukunya ? mending disobek aja terus dibuang. Daripada nanti malah kena orang lain yang tidak sengaja megang buku itu.Begitupula jika mengenai Kain, misalnya Baju atau Celana, agar Segera dicuci, karena Paederin yang meresap ke dalam serat kain, masih mampu mengiritasi Kulit yang terkena,Kira-kira mirip dengan getah tidak akan hilang sebelum dicuci.
“Jenazah” Tomcat segera dibuang jauh-jauh. Karena dalam keadaan matipun, tubuhnya masih dapat menimbulkan masalah.
Yang dilakukan ketika kulit terpapar paedrin, Seperti yang telah dibahas di atas, Paederin bersifat Asam yang mampu mengiritasi Kulit secara mendalam. Efek Iritasinya lebih hebat dari Haemolymph Semut, Lebah & serangga lain. Bahkan Air perasan Cabai pun tidak seiritatif Paederin (Air Cabai memiliki sifat Iritatif ringan. Itulah sebabnya terasa panas di kulit, namun tidak menimbulkan masalah). Segera setelah terkena Paederin, reaksi pertama pada kulit adalah timbul Kemerahan yang disertai sensasi Panas dan Nyeri ringan, Kadang diikuti gatal. Setelah beberapa saat, biasanya dalam 12 jam, jaringan kulit akan mulai mati karena Iritasi Asam Paederin (Nekrolisis).
Diawali dengan timbulnya gelembung kecil pada kulit (Vesikel), yang kelamaan akan menjadi Nanah (Kumpulan jaringan Kulit yang mati), mengeras kasar dan menimbulkan gambaran seperti Jaringan Parut pada permukaan kulit, besarnya kurang lebih seperti Jerawat deh. Namun jumlahnya banyak dan kecil-kecil.
Bentuk Luka pada lipatan akibat Tomcat
Karena tidak segera dicuci, namun dibiarkan, maka cairannya mengenai area kulit sebelahnya. Sehingga membentuk area Lesi yang Simetris. Mirip seperti “Bayangan pada Cermin” (Mirror) atau “bekas Lipstik yang menempel pada kulit” (Kissing)
Bentuknya gejala atau Lesi awal pada kulit memang mirip seperti agak Cacar Air, Herpes Zoster atau Herpex SimplexNamun sama sekali bukan bisa menjadi Herpes. Hanya mirip bentuknya, bukan menjadi.
1332366021764071692
Lesi Herpes tipe 1
Foto diatas menunjukan gejala Herpes tipe 1, yaitu berupa Gelembung (Vesikel/Bula) Transparan dan Bening. Bandingkan dengan Dermatitis Paederus :
13323671651180560706
Close Up Dermatitis Paederus
13323666391448200777
Akibat mengusap Paederin pada kulit. Terlihat area Lesi meluas karena gosokan
13323667862082387002
Lesi Memanjang ini terjadi karena secara refleks memukul Paederus yg bertengger di Dahi, lalu menggosoknya ke arah hidung


13323668961747815174
ini akibat setelah menepuk Paederus tidak mencuci tangan, lalu langsung mengucek mata


Jadi saran menggunakan obat Herpes untuk mengatasi Dermatitis Paederus ini adalah salah kaprah yang berlebihan. Apalagi jika menggunakan Acyclovir, tentunya sangat tidak tepat dan sangat berbahaya. Sekedar informasi, Acyclovir bekerja dengan mengubah DNA Virus Herpes agar si Virus menjadi kacau dan tidak mampu berkembang. Kalau menggunakan Acyclovir, sementara Virus Herpesnya tidak ada ? DNA manakah yang dirusak ? Tentunya DNA sel tubuh kita yang kena. Itu sebabnya penggunaan Acyclovir sangat dibatasi dan harus dengan pengawasan dosis yang ketat. tidak bisa digunakan sembarangan.
Untuk mengatasinya, Jika setelah dicuci dengan sabun pun masih timbul kemerahan, langkah pertama adalah mengkompresnya dengan Air Dingin atau Es. Selain mengurangi sensasi Panas, Nyeri dan Gatal yang timbul, juga menghambat penyebaran Paederin pada jaringan kulit lain. Dengan cara mengecilkan Pembuluh Darah kulit, sehingga sebagian Paederin yang terlanjur masuk dalam jaringan terisolasi dan pembengkakan pun bisa berkurang. Sebaliknya jika dikompres Panas, atau umumnya sebagian rakyat kita gemar mengoles Balsem untuk gigitan serangga, Pembuluh Darah akan melebar dan Paederin akan mudah menyebar ke bagian kulit yang lain. Sehingga efek bengkakpun semakin meluas. Jangan digaruk atau digosok dengan benda apapun. Kulit yang teriritasi menjadi sangat tipis dan mudah koyak. Jika digaruk, akan menimbulkan Luka kecil dan menjadiPintu Masuk bagi Kuman-Kuman. Sehingga timbulah Infeksi Sekunder / Infeksi Ikutan dan Lesi pun bertambah parah.
Langkah Kedua adalah memberikan Salep Steroid, yang berguna untuk mengurangi Sensasi Gatal dan Radang pada bagian yang teriritasi. Gunakan dengan mengoleskan sangat tipis pada permukaan kulit. Karena obat ajaib ini tergolong obat unik. Dosis kecil, dia membantu menghilangkan gejalaSebaliknya kalo kelebihan Dosis, malah memperkuat efek Paederin
Salep Antibiotik sebaiknya hanya diberikan jika diperlukan, jika timbul Infeksi Sekunder/Ikutan yang parah. Misalnya menjadi Bisul yang besar. Jika menggunakan Antibiotik, sebaiknya berikan jeda waktu dengan Salep Steroid. Kira-kira interval 1-2 jam. Jangan ditumpuk jadi satu kali pemberian. Lebih baik lagi jika berkonsultasi dengan dokter dulu untuk memastikan diagnose dan terapinya.
Jadi kesimpulannya, urutan Tata Laksana Dermatitis Paederus adalah :
1. Cuci dengan Air Mengalir dan Sabun
2. Kompres dengan Air Es/Dingin
3. Diberikan Salep Steroid
4. Diberikan Salep Antibiotik jika diperlukan
Bagi kaum Muslimin, pencegahan dari serangan bahaya serangga atau apa saja yang berbahaya tidak hanya dilakukan dalam segi ilmiah. Secara rohani, dzikrullah dapat mencegah dari hal yang berbahaya (insya Allah). 
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Ketika aku tidur tadi malam ada seekor kalajengking yang menyengatku.
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
 أَمَا لَوْ قُلْتَ حِينَ أَمْسَيْتَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّكَ
“Sekiranya di waktu sore kamu membaca, “A’uudzu bi Kalimatillahittaammaati Min Syarri Maa Khalaq (aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa saja yang Dia ciptakan), niscaya binatang itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim no. 2709).
Allahu a’lam
Semoga sedikit banyak tulisan ini bisa bermanfaat dan meluruskan beberapa fakta heboh seputar Wabah “Tomcat” alias Dermatitis Paederus ini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar